Mengapa Begini
Hari lalu dengan samar aku mendengar
Kemarin dengan nyata aku menyaksikan
Hingga hari ini aku masih tak percaya
Berharap potret itu hanya pura-pura
Mengapa begini tuan ?
Mengapa harus kita ?
Mengapa tuan tak ingin bersua ?
Mengapa begitu egois tuan mengambil langkah ?
Seperti inikah tuan yang aku kenal ?
Setega itukah tuan yang aku segan ?
Kemanakah perginya tuan yang dulu jadi panutan ?
Ada apakah dengan tuan ?
Dalam sujud tak henti sepasang mata menyelipkan doa
Seorang diri merangkul tangan dan kaki dengan mata lebam, namun tak ada satu orangpun yang percaya saat ia bersuara
Rasa sesak didadanya tak lagi memiliki rupa
Karena bola api yang tuan lempar bertubi-tubi menusuk hati tanpa rasa belas kasihan
Tak pernah aku bayangkan potret itu terjadi
Tuan memilih dia yang hanya melihat status tuan saat ini
Begitu tersiksakah batin tuan bila tak memilih dia ?
Apakah hati tuan telah mati ?
Tuan datang dan pergi sesuka hati
Seolah kita bukan rumah yang nyaman saat tuan kehilangan jati diri
Tak tahukah tuan dia sedang tertawa menginjak kepala kita begitu bengis ?
Dengan angkuh memamerkan emas yang dulu ingin dia miliki
Tunggu ...
Apa sekarang tuan telah sadar bahwa didih ini mampu membentuk wabah di atas permukaan bumi ?
Apa sebelumnya tuan sudah membayangkan paras kita yang hampir mati menari menangkap berbagai versi gelembung opini ?
Tak disangka dia telah merenggut tuan dari tangan wanita yang dulu jalalnya telah tuan dapati
Daksanya seolah bagi tuan tak lagi elok
Hingga kemaruk membuat netra berbelok-belok
Bukankah yang membuat Stretch Mark itu adalah tuan ?
Mengapa tak memberinya waktu mengurus diri, jika itu adalah solusi ?
Apa salahnya padamu tuan ?
Lupakah siang dan malam ia bekerja tak tahu diri
Saat yang lain terlelap tidur menikmati mimpi
Ia rela membagi waktu, banyak mengalah hanya untuk melihat bahagia pada wajah tuan dan buah hati
Ia bukanlah budak tuan, ratukanlah ia dengan layak dan baik
Jagalah ia, peluklah ia bila tuan tergoda untuk berpaling
Jangan pernah kepercayaan yang ia beri tuan manipulasi
Sebab jika itu terjadi, niscaya feelingnya tak akan meleset sama sekali
Sungguh telah terlalu jauh tuan bermain api
Menciptakan lava hingga tak mampu diatasi
Menggebu-gebu berkata sangat peduli sampai kerongkongan kering
Tapi apa yang tuan beri terjadi diluar ekspektasi, tak berdarah namun luka menampar pipi
Lihatlah dahi ini tuan
Dilempari cirit, tak dapat aku bersihkan dengan lidah sendiri
Keadaan membuat mulut rapat-rapat dikunci
Menelan tulang merobek hati, membuatku merintih menyelamatkan kita yang terjebak dalam ego ini
Sudah lihatkah dua pasang mata itu, tuan ?
Teriak ketakutan tinggalkan trauma hiasi hari
Menangis tapi entah bagaimana ekspresi
Mencoba dengan paksa mecerna, memahami potret yang baru ia hadapi
Apakah tuan mulai lupa dengan perjuangan kita dan juga kalian beberapa tahun silam ?
Apakah tuan lupa wajah polos yang merengek masih sangat butuh kasih sayang ?
Terengah-engah mereka mengejar tuan
Namun pilihan yang diambil sudahlah benar menurut tuan
Sadarlah tuan
Kembalilah pulang sayang
Tak ada kata terlambat untuk mencoba
Peluang akan tetap ada jika tuan datang dengan tulus memperbaiki keadaan
Kita akan tetap menerima tuan sayang
Sebesar apapun kesalahan yang dilakukan kita akan tetap memeluk tuan
Marilah bertukar pikiran, saling menggenggam mencari solusi dari perkara yang coba kita pecahkan
Apa yang terjadi tak sepenuhnya salah tuan
Kita hanya terlalu sibuk dengan masing-masing urusan, sangat lelah, butuh jeda hingga tak sadar diantara kita butuh pelukan
Kemarilah tuan
Sejukkan suasana yang begitu menguras tenaga, emosi dan pikiran
Apa yang tuan pilih tak usah disesali
Sebagai manusia hal itu bisa dimaklumi
Tak ada yang sempurna bukan ?
Jangan lagi menutup diri
Jangan lagi menanggung beban seorang diri
Kita tak pernah membenci tuan sayang
Maafkan kita bila tak sejalan
Kita geram bukan berarti tak berpihak pada tuan
Bukan kita mematahkan semangat tuan
Tapi inilah pilihan yang tepat menurut kita
Komentar
Posting Komentar