AGAMA DAN BENTURAN PERADABAN DI ZAMAN MODERN
AGAMA
DAN BENTURAN PERADABAN DI ZAMAN MODERN
Chaerunnisa
1606015083
Fakultas
Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas
Muhammadiyah PROF.DR.Hamka
Email:Chaerunnisaalaydrus29@gmail.com
Abstract:
The presence of religion, especially the religions of mission, in human life
has
established
a separate civilization characteristics which can lead to a clash of
civilization
which
is assumed in the form of inter-group conflict of civilizations. The clash
believed to be a
necessity
is mainly triggered by modernity which in the end led to the secularization.
The
above
assumptions initiated by Huntington still can be criticized for several
reasons. However,
the
tolerance between civilizations should be implemented. In this regard,
multiculturalism as
the
willingness to accept other groups equally as an entity regardless of cultural
differences,
ethnicity,
gender, language, religion or country becomes important to be discussed.
Likewise,
vertical
and horizontal dialogue should be the most essential way to cultivate
harmonious life
among
all religious people.
Abstrak:
Kehadiran agama terutama agama-agama misi dalam kehidupan manusia telah
membentuk
karakteristik peradaban tersendiri yang dapat mendorong terjadinya benturan
peradaban
(clash of civilization) yang diasumsikan dalam bentuk terjadinya benturan antar
kelompok
dari berbagai peradaban. Benturan ini yang diyakini sebagai suatu keniscayaan
ini
terutama
dipicu oleh modernitas, yang pada ujungnya membuahkan sekularisasi.
Asumsiasumsi di atas yang terutama dicetuskan Samuel Huntington masih dapat
dikritisi karena
beberapa
alasan. Namun demikian, toleransi antara peradaban tersebut perlu dilaksanakan.
Dalam
kaitan ini, maka multikuralisme sebagai kesediaan menerima kelompok lain secara
sama
sebagai sebuah kesatuan tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, gender,
bahasa,
agama
ataupun negara menjadi penting dibicarakan. Demikian pula dialog, baik vertikal
maupun
horizontal, harus menjadi suatu cara yang paling penting untuk membudayakan
kehidupan
rukun dan harmonis di antara seluruh umat beragama.
Keywords:
agama, benturan peradaban, modernism, multikulturalisme, dialog
Pendahuluan
Pada dasarnya, semua
ajaran agama itu baik dan mengajak kepada kebaikan. Namun nyatanya tidak semua
yang dianggap baik itu bisa bertemu dan seiring sejalan. Bahkan, sekali waktu
dapat terjadi pertentangan antara yang satu dengan yang lain.
Alasannya bermacam-macam.
Misalnya, tidak mesti yang dianggap baik itu benar. Juga, apa yang benar
menurut manusia belum tentu dibenarkan oleh Tuhan dan alasan lain yang dapat
dimunculkan.
Menurut Joachim
Wach,salah seorang ahli dalam bidang sosiologi agama, bahwa terdapat dua
pandangan terhadap kehadiran agama dalam suatu masyarakat, yaitu pandangan
positif dan pandangan negatif. Pendapat pertama mengatakan, ketika agama hadir
dalam satu komunitas, perpecahan tak dapat dielakkan. Dalam hal ini, agama
dinilai sebagai faktor disintegrasi.
Salah satu sebabnya
adalah agama hadir dengan seperangkat ritual dan sistem kepercayaan yang lama
kelamaan melahirkan suatu komunitas tersendiri yang berbeda dari komunitas
pemeluk agama lain.
Rasa perbedaan tadi kian intensif ketikapara
pemeluk suatu agama telah sampai pada sikap dan keyakinan bahwa satu-satunya
agama yang benar adalah agama yang dipeluknya. Sedangkan yang lain salah dan
kalau perlu dimusuhi.
Pandangan yang kedua
adalah sebaliknya. Justru agama berperan sebagai factor integrasi, ketika
masyarakat hidup dalam suku-suku dengan sentimen sukuisme yang tinggi, bahkan
di sana berlaku hukum rimba, biasanya agama mampu berperan memberikan ikatan
baru yang lebih menyeluruh sehingga terkuburlah kepingan-kepingan sentimen lama
sumber perpecahan tadi. Agama dengan sistem kepercayaan yang baku, bentuk
ritual yang sakral, serta organisasi keagamaan dalam hubungan sosial mempunyai
daya ikat yang amat kuat bagi integrasi masyarakat.
Pengertian Agama
Makna kata religio(Agama)
berarti ikatan atau pengikatan diri.
Berdasarkan pemahaman
tersebut, kehidupan beragama adalah kehidupan yang
mempunyai tata aturan
serta kewajiban yang harus ditaati oleh para pemeluknya, tata
aturan tersebut adalah
yang sesuai dengan kehendak Ilahi. Sebagai sebuah sunnatullah, ada
bermacam-macam agama yang
hidup dan berkembang di bumi manusia ini, maka tidak
menjadi heran bila apa
yang disebut agama itu pun terbuka untuk berbagai macam
interpretasi serta
definisi. Secara umum, agama mengacu kepada kepercayaan, perbuatan,
dan perasaan manusia
dalam terang keyakinan bahwa nilai-nilai mereka berakar dalam
suatu realitas ilahi.
Inti kehidupan orang beragama adalah kepercayaan dan penyerahan
hidupnya kepada Yang
Ilahi, Allah. Meskipun berurusan dengan dunia ilahi, agama adalah
suatu aktivitas historis,
bukan suatu aktivitas yang berlangsung di luar ruang dan waktu
duniawi.
Yang beragama
adalah manusia sebagai makhluk historis dan sebagai aktivitas
historis, agama menempati
posisi yang sangat menentukan dalam seluruh proses
pembangunan manusia
Agama dalam kehidupan
para pemeluknya dan kehidupan masyarakat pada
umumnya tumbuh dan
berkembang menjadi suatu dunia yang multiwajah.
Agama tidak hanya
berwajah iman dan ibadah, melainkan juga tumbuh menjadi gejala ekonomi, sosial
budaya, politik, dan fenomena sosio-historis lainnya dalam kehidupan umat
manusia.
Dalam perspektif
sosiologis, bagi Emile Durkheim mengkonseptualisasikan agama sebagai
the ultimate nonmaterial
social fact, atau suatu fakta sosial nonmateri yang bersifat penting
dan mendasar dalam
kehidupan manusia. Maka agama yang dipahami secara benar akan
berfungsi sebagai
„kompas‟ yang menjadi penunjuk arah ke mana kehidupan modern yang
penuh perubahan tata
nilai akan dimuarakan’.
Menurut Karen Armstrong,
agama bukanlah sesuatu yang terutama menyangkut
pikiran manusia,
melainkan lebih pada perbuatan manusia. Kebenarannya diperoleh
melalui amalan langsung.
Agama adalah sebuah disiplin praktis yang mengajari
pemeluknya menemukan
kemampuan baru pikiran dan hati.
Orang-orang tidak mencoba untuk menerapkannya tidak akan dapat mengalami kemajuan sama sekali.
Orang yang beragama merasa sulit untuk menjelaskan bagaimana pengaruh ritual amal mereka.
Agama itu
kompleks, dalam setiap zaman, orang mengamalkan agama mereka dalam beraneka
ragam cara yang berbeda dan kontradikstif.
Benturan Menupakan
Problem Modernitas
Sesungguhnya, modernitas
merupakan pilihan hidup yang niscaya pada setiap
babakan sejarah peradaban
manusia baik pada masa Yunani Kuno, era kejayaan Islam,
sampai pada masa modern
Barat dewasa ini. Tetapi, karena modernitas sebagai ide pokok
kemanjuan tidak lepas
juga dari ambisi-ambisi berlebihan dari manusia sendiri sebagai
pelakunya yang utama yang
kemudian bertemu dengan situasi-situasi sosial yang tidak
selalu vakum dengan
permasalahan, maka pada akhirnya modernitas itu menampilkan dua
wajah yang ambivalen.
Modernitas adalah zaman di mana yang modern menjadi nilai,
atau lebih-lebih,
modernitas menjadi nilai yang fundamental yang diacu oleh semua nilai.
Modernitas merupakan
sebutan bagi kondisi konkret sosial, ekonomi, politik, dan
budaya zaman modern yang memiliki perbedaan dengan zaman pertengahan.
Modernitas merupakan produk yang diakibatkan oleh sekularisasi, baik sekularisasi bidang politik,
ekonomi, ilmu
pengetahuan, demikian juga dalam bidang yang lain, karena semangat
pemikiran bebas dan
humanisme. Adapun peristiwa-peristiwa penting yang ikut
mendorong lahirnya
modernitas antara lain adalah; revolusi ilmu pengetahuan, revolusi
Perancis, dan revolusi
industri di Inggris. Revolusi-revolusi tersebut kemudian melahirkan
elemen-elemen
modernisasi, seperti sanis dan teknologi, demokrasi, dan kapitalisme.
Maka secara sosiologis,
masyarakat Abad Pertengahan adalah masyarakat yang
relatif kecil, homogen,
tanpa pembagian kerja, di mana tradisi, adat istiadat, dan agama
memainkan peran kunci.
Sebaliknya, masyarakat modern adalah merupakan masyarakat
yang heterogen,
industrial, dan sekuler, di mana sains dan teknologi ganti memainkan
peran kunci menggantikan
tradisi dan agama. Secara umum modernitas berarti tumbuhnya
industri, kota-kota,
kapitalisme pasar, keluarga borjuis, dan demokratisasi. Masyarakat
modern bukan lagi
masyarakat kecil, di mana satu sama lain saling kenal dan bergotongroyong
secara sukarela, melainkan masyarakat modern adalah masyarakat orang-orang
asing yang heterogen
secara kultural dan agama, di mana norma hubungan antarmanusia
dieksploitasi dalam bentuk kontrak.
Dalam perjalanannya, fenomena modernitas tersebut mendapat tanggapan baik positif maupun negatif.
Mereka yang menanggapi secara negatif biasanya adalah yang menganggap masa sebelum peradaban modern muncul adalah masa indah di mana manusia tidak diatur-atur secara mekanis seperti mesin.
Sedangkan yang menanggapi secara positif adalah mereka yang memiliki sikap optimis bahwa modernisasiakan membawa masyarakat ke luar dari tempurung Abad Pertengahan dan akan menjadi lebih sadar, cerdas, dan bebas. David Ray Griffin, menjelaskan bahwa dalam dunia Kristen, telah terjadi masalah-masalah dalam modernitas, baik dalam modernitas awal demikian juga dalam modernitas akhir. Dalam modernitas awal memunculkan masalah-masalah yang bersifat teoritis,seperti pertama, masalah kejahatan dalam teisme Kristen, karena tekanannya pada kemahakuasaan Tuhan dan kebaikan Tuhan yang sempurna, masalahnya menjadi besar ketika kekuatan sang pencipta semakin ditekankan dan kekuatan ciptaan-Nya secara tegas dianggap tidak ada, juga ketika
penekanan baru pada
kekuasaan ini diungkapkan dalam kerangka „agama natural‟ yang
hanya diterima
berdasarkan pengalaman dan nalar belaka tanpa pertimbangan adanya
wahyu atau “misteri”
supernatural. Kedua, Injil yang diyakini sebagai wahyu Tuhan,
ternyata berdasarkan
telaah historis dan sastra, menunjukkan segala tanda kreativitas
manusia. Gagasan yang
menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan inheren
untuk menolak karya
Penyelenggaraan Ilahi menyebabkan manusia berpikir bahwa buku
yang pembuatannya
berdasarkan inspirasi dari Tuhan itu bebas dari kekeliruan dan bias.
Akan tetapi telaah
historis dan sastra menunjukkan bahwa Injil mengandung banyak
kekeliruan dan
kontradiksi, dan bahwa masing-masing pengarangnya memiliki pandangan
yang khas.
Ketiga, masalah munculnya
cara pandang evolusioner. Gagasan yang menyatakan
penciptaan berlangsung
secara seketika cocok dengan gagasan bahwa Tuhan secara
inheren memiliki semua
kekuatan dan bahwa penciptaan berangkat dari “ketiadaan”. Jika
dunia tidak memiliki
kekuatan inheren yang dapat menolak karya kreatif Tuhan, maka
manusia tidak dapat
berpikir bahwa keadaan bumi berasal dari suatu proses yang berjalan
selama bermilyar tahun
atau bahwa keadaan fisik suatu spesies hanyalah adaptasi tak
sempurna suatu struktur
yang pada awalnya berkembang dari spisies sebelumnya.
Keempat, masalah
jiwa-badan. Bagaimana pikiran yang memiliki kreativitas dan
pengalaman dapat
berinteraksi dengan badan yang dianggap tidak memiliki kreativitas dan
pengalaman. Dalam hal
ini, ada beberapa jawaban yang ditawarkan oleh filsuf, diantaranya
Rene Descartes dan
Berkeley, semua hanyalah variasi dari satu tema, yaitu
kemahakuasaan Tuhan
diperlukan untuk menjelaskannya. Di samping konflik-konflik
antara teori dan fakta
tersebut, pandangan dunia modern awal juga menghasilkan masalah
praktis yang serius.
Sedangkan masalah-masalah
dalam modernitas akhir, pandangan dunia modern
awal, dengan dualism dan
teisme supernaturalistiknya, kemudian berinovasi menjadi
pandangan dunia modern
akhir yang bersifat materialistik dan ateistik, dan pandangan ini
juga dijangkiti banyak
pertentangan antara teori dan praktek. Sebagaimana setelah
menolak adanya jiwa yang
dalam pandangan modern awal dianggap menghalangi semua
kreativitas yang berarti
kebebasan, pandangan dunia modern akhir tidak menerima
kebebasan yang dalam
praktek dianggap sudah ada pada setiap orang, bahkan juga dalam
sikap menolak kebebasan
itu sendiri.
Setelah menerima
pandangan bahwa pengaruh kausal hanya diterima melalui kontak, dengan menolak
adanya Tuhan yang Mahakuasa yang dapat menjelaskan adanya pengaruh dari jauh,
pandangan dunia modern akhir secara dogmatis menolak adanya pengaruh semacam
itu meskipun terdapat banyak bukti yang membenarkannya.
Akhirnya, bila modernitas
awal mengalami kesulitan saat berhadapan dengan ketidakteraturan, seperti
ditunjukkan pada masalah kejahatan, evolusi, dan kitab suci yang dapat salah,
pada modernitas tahap akhir memiliki masalah dalam hubungannya dengan
keteraturan. Di samping adanya pertentangan antara teori dan fakta, sebagaimana
pada modernitas awal,
modernitas akhir menyiratkan gagasannya mengenai spiritualitas
secara mendua. Kemenduaan
ini muncul dari ketegangan antara praktek dalam masyarakat
ilmiah dan teori yang
diusulkan pandangan dunia modern akhir
Benturan Peradaban
Sebelum menjelaskan
persoalan Benturan Peradaban, terlebih dahulu perlu
memahami hakikat
peradaban, yang pada akhirnya terjadi benturan-benturan antara
peradaban itu sendiri,
apalagi setiap bangsa memiliki peradabannya sendiri, dan peradaban
tersebut memiliki superioritasnya
masing-masing. maka sejarah manusia merupakan
sejarah peradaban itu
sendiri. Setiap membicarakan sejarah perkembangan manusia, akan
diikuti oleh sejarah
suatu peradabannya. Seluruh sebab kemunculan, perkembangan, saling
keterkaitan-keterkaitan,
pencapaian-pencapaian, kemunduran dan kejatuhan berbagai
peradaban telah
tereksplorasikan melalui para sejarawan, sosiolog, dan antropolog. Dalam
pemaparannya tentang
peradaban, mereka sepakat bahwa proposisi-proposisi sentral
mengenai hakikat,
identitas, dan dinamika dari masing-masing peradaban tersebut, yaitu:
1. Sebuah peradaban dapat
dikemukakan di antara berbagai peradaban, baik yang singular
maupun plural. Ide
tentang peradaban dikembangkan oleh pemikir Perancis abad
XVIII, yang
memperlawankan dengan konsep “barbarisme”. Masyarakat yang telah
berperadaban dibedakan
dari masyarakat primitif karena mereka adalah masyarakat
urban, hidup menetap, dan
terpelajar. Berperadaban dianggap baik, tidak berperadaban
adalah buruk.
2. Sebuah peradaban,
adalah sebuah entitas kultural.
3. Setiap peradaban
selalu bersifat komprehensif yang tidak satu pun dari konstituen
kesatuannya dapat
sepenuhnya terpahami tanpa mengacu pada cakupan wilayah
peradaban. Peradaban
adalah entitas paling luas dari budaya. Sebuah peradaban adalah
bentuk budaya yang paling
tinggi dari suatu kelompok masyarakat dan tataran yang
paling luas dari
identitas budaya kelompok-kelompok masyarakat manusia yang
dibedakan secara nyata,
yang didefinisikan dalam faktor-faktor objektif, seperti bahasa,
sejarah, agama,
kebiasaan-kebiasaan, institusi-institusi, maupun identifikasi diri yang
bersifat subjektif.
4. Peradaban-peradaban
bersifat fana namun juga hidup sangat lama, ia berkembang,
beradaptasi dan sangat
berpengaruh terhadap kehidupan manusia, merupakan realitasrealitas yang
benar-benar dapat bertahan dalam waktu yang lama. Keunikan dan esensi
utamanya adalah
kontinuitas historinya yang panjang. Peradaban adalah fakta
kesejarahan yang
membentang dalam kurun waktu yang sangat panjang.
5. Karena peradaban
merupakan entitas-entitas kultural, bukan entitas-entitas politis,
sehingga tidak berpegang
pada tatanan, penegakan keadilan, kesejahteraan bersama,
upaya-upaya perdamaian,
mengadakan upaya negosiasi atau menyiapkan kebijakankebijakan yang biasa dilakukan
oleh sebuah pemerintahan.
Sebuah peradaban
berkembang dan mengalami perubahan yang umumnya terjadi di sejumlah kesatuan
dan hakikat konstituen politisnya. Samuel Huntington, dalam teorinya Benturan
Peradaban “Clash of Civilization“ berasumsi bahwa dimensi utama dan yang paling
signifikan dalam politik global terjadi berupa benturan antar kelompok dari
berbagai peradaban, padahal sistem internasional yang berasaskan
peradaban-peradaban itulah yang menjadi jaminan untuk menghindari perang dunia.
Kebudayaan dan identitas-identitasnya akan membentuk pola-pola integrasi,
disintegrasi, dan
pergulatan di dunia pasca perang dingin. Huntington mencoba
menekankan bahwa,
hubungan antara negara-negara akan bersifat bermusuhan, dan ada
komunitas-komunitas yang
akan lebih sering mengalami pergulatan dan konflik daripada
yang lainnya
Solusinya
Yaitu dengan cara
berpikir secara perspektif agama tapi mengikuti juga pergerakkan kemajuan
peradaban sehingga kita tidak melenceng dari agama maupun tidak kalah dengan kemajuan
peradaban pada modern ini.dan kita harus selalu berfikir positif dengan
melibatkan aspek agama dan kemajuan peradaban modern.
Kesimpulan
Antara agama dan benturan
peradaban merupakan suatu keniscayaan, perbenturan
yang paling serius adalah
yang terjadi di garis sepanjang perbatasan antarperadabanperadaban utama dunia.
Bagi Huntington, sumber dari konflik antara negara di dunia
pascaperang dingin adalah
benturan antarperadaban, terutama antara Islam dan Barat
(Kristen). Menurtnya, dua
peradaban ini memiliki karakteristik yang membuka
kemungkinan untuk
bersaing dan konflik antara keduanya. Baik Kristen dan Islam adalah
agama misi, di mana
masing-masing memberikan penghargaan yang tinggi pada upaya
pengislaman atau
pengkristenan lawan-lawannya. Karena itu toleransi antara keduanya
perlu dilaksanakan,
demikian juga dengan persoalan lainnya, termasuk persoalan
peradaban, yang
selanjutnya perlu menggagas suatu dialog berbentuk keimanan dan
peradaban dengan
dilandasi sikap ketulusan dan kejujuran. Hal demikian juga mewarnai
peradaban lainnya,
termasuk Hindu dan Budha, antara Hindu dan Islam, serta antara Budha
dan Islam, namun demikian
ini merupakan gejala dalam kebangkitan agama-agama,
sebagaimana yang
disinyalir oleh John Naisbitt.
DAFTAR PUSTAKA
A. Abdul Rozak
Ubaidillah, Pendidikan Kewargaan (Civic Education), Demokrasi, Hak Asasi
Manusia dan Masyarakat
Madani, (Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2006).
Adb A‟la, Melampaui
Dialog Agama, (Jakarta: Kompas, 2002).
Ahmad Syafii Ma‟arif,
Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan, Sebuah
Refleksi Sejarah,
(Bandung: Mizan, 2009).
Akbar S. Ahmed,
Postmodernism and Islam: Predicamen and Promise, (London: Routledge,
2002.
Akhyar Lubis Yusuf,
Dekonstruksi Epistemologi Modern, (Jakarta: Pustaka Indonesia Satu, 2006).
Amin Abdullah, Dinamika
Islam Kultural; Pemetaan atas Wacana Keislaman Kontemporer,
(Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2000).
Asghar Ali Engineer,
Islam dan Teologi Pembebasan, Terjemahan, Cetakan I,
(Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1999).
Budhy Munawar-Rachman,
Membaca Nurcholish Madjid, (Jakarta: Lembaga Studi Agama
dan Filsafat (LSAF),
2008).
David Miller, On
Nationality, (Oxford: Oxford University Press, 1995).
David Ray Griffin, Tuhan
dan Agama dalam Dunia Postmodern, (terj. God ang Religion in
the Postmodern World,
Oleh A. Gunawan Admiranto), (Yogyakarta: Kanisius,
2005).
Donny Gahral Adian,
Percik Pemikiran Kontemporer, Sebuah Pengantar Komprehensif,
(Yogyakarta: Jalasutra,
2006).
Gianni Vattimo, The End
of Modernity, Nihilisme dan Hermeneutika dalam Budaya
Postmodern, Terjemahan
oleh Sunarwoto Dema, The End Modernity, Nihilism
and Hermeneutics in
Post-modern Culture, (Yogyakarta: Sadasiva, 2003).
H.A.R. Tilaar,
Multikulturalisme, Tantangan Global Masa Depan, (Jakarta: Grasindo, 2004).
Komentar
Posting Komentar